Senin, 10 Maret 2014

Cukupkanlah Dirimu

CUKUPKANLAH DIRIMU
  "Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan"

            Seorang yang sangat kaya raya yang pernah hidup di Amerika, John D Rockefeler, satu kali ditanya oleh seseorang , berapa banyak uang yang masih anda inginkan untuk bisa puas? Dia menjawab: "just a little bit more", "hanya sedikit lagi".Rakus dan keserakahan mempunyai banyak muka. ada yang rakus akan kehormatan, ada yang rakus akan popularitas, ada juga yang serakah akan uang dan kekayaan, namun semua memiliki bahasa yang sama, "ingin lebih lagi" Pada saat Rockefeler meninggal, seseorang bertanya kepada accountant pribadinya, "...jadi, berapa banyak uang dan kekayaan yang Mr.Rockefeler tinggalkan? Accountant nya menjawab: "everything...","semuanya". Keserakahan dan kerakusan selalu bicara ingin lebih lagi, namun pada akhirnya, semua akan ditinggalkan. Belajar dari cerita di atas, belajarlah untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan.
       Jika demikian, salahkah kita jika kita berusaha lebih lagi,bekerja lebih giat lagi, mendapatkan keuntungan yang lebih baik lagi? tentu sama sekali tidak salah, namun jika kita tidak belajar untuk mencukupkan diri dalam segala perkara sejak kita memiliki sedikit saja, maka ketika kita menjadi semakin besar dan diberkati, keserakahan akan mencengkram hati kita. Cukup itu memang relatif ada orang yang bisa hidup hanya dengan memiliki tempat berteduh dan makanan sekedarnya. Saya pernah liat anak jalanan yang sedang bermain sambil tertawa dibawah kolom jembatan, di lain kesempatan, kita semua mengenal ada orang yang memiliki begitu banyak harta, namun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, Bedanya adalah yang satu merasa cukup sekalipun memiliki sangat sedikit, yang lain terus merasa kurang.
          Rasa cukup tidak akan muncul secara tiba-tiba, Salah satu aspek pertama yang kita bisa pelajari dalam hal mencukupkan diri adalah waktu. Setiap kita, besar atau kecil, kaya atau miskin, berkedudukan atau tidak, sama-sama memiliki waktu hanya 24 jam perhari, 7 hari seminggu. Namun ada yang bijaksana mengatur waktunya, ada yang sama sekali tidak bijaksana. Coba kita teliti, jika kita selalu tidak ada waktu, banyak hal tidak mampu kita selesaikan, bahkan banyak tanggung jawab yang kita telantarkan, bukankah itu bukti kita belum belajar untuk mencukupkan diri dengan waktu yang ada? Akibatnya, hal hal penting dan bahkan urgent kita abaikan. Mulai-lah belajar untuk mengatur waktu yang ada dengan bijaksana.
            Hal lain yang juga sering kita remehkan adalah merasa cukup akan kasih karunia Tuhan. Banyak orang yang terus menerus merasa dirinya paling sengsara, tidak berharga, bahkan tidak sedikit yang percaya bahwa Tuhan tidak adil dan jahat. begitu juga satu hal yang juga sangat berpengaruh ketika kita mau belajar hidup cukup adalah perkara keuangan. Ketika kita tidak mampu menundukan kekayaan dunia ini dibawah kendali, maka kebalikannyalah yang akan terjadi, kekayaan itulah yang akan menundukan dan memerintah atas kita. Hati-hati jangan sampai kita diperbudak olehnya!

0 komentar:

Poskan Komentar